PROSES MENJADI MURID KRISTUS
2022-06-20 || Admin
-
PROSES MENJADI MURID KRISTUS
Matius 4:18-22
Tidak ada bujukan, tidak ada tunjangan, tidak ada janji ketika Tuhan Yesus memanggil para murid-murid-Nya. Dengan kalimat yang sederhana tapi penuh arti dan kuasa, Yesus mengatakan,”Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (ay. 19). Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes sangat memahami arti menjadi seorang penjala ikan. Tapi menjadi penjala manusia m merupakan sesuatu yang baru bagi mereka. Ketika mereka meninggalkan “perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia”, itulah awal perubahan hidup mereka. Sekelompok penjala ikan yang diproses menjadi penjala manusia. Mereka menjadi murid-murid Kristus yang akan memuridkan yang lain. Ketaatan mereka atas panggilan Tuhan bukan karena janji akan harta benda yang mereka akan terima tapi panggilan untuk terlibat dalam perkara yang lebih besar, yaitu “bisnis kerajaan Allah” yang melibatkan penginjilan akan kabar baik tentang keselamatan dalam Kristus dan memuridkan orang-orang percaya untuk bertumbuh di dalam Kristus.
Para murid dipanggil untuk diperlengkapi oleh Tuhan. Mereka selalu berada dekat dengan-Nya. Tuhan Yesus memberikan peragaan langsung “how to”. Peragaan dalam proses menjadi murid sejati bukan hanya pembekalan akan keterampilan melayani tapi pembentukan karakter. Tuhan Yesus memberikan Diri-Nya menjadi contoh untuk seluruh aspek kehidupan seorang murid. Tugas pertama seorang murid adalah berada dibawah supervisi Yesus – belajar Firman-Nya, menafsirkan-Nya, dan memperhatikan tingkah laku-Nya. Tugas kedua adalah tugas lapangan dalam penginjilan – belajar untuk memperkatakan Firman-Nya dan melakukan apa yang dilakukan-Nya. Maka ketika contoh dan tugas itu diikuti maka para murid berhasil dalam mengikuti dan melayani-Nya. Menjadi murid berarti menjadi seperti Yesus jadi seorang murid Yesus tidak dapat lepas daripada-Nya.
Seorang yang sudah pernah mendengar, menjadi percaya, mengikut, dan mengenal Kristus adalah seorang murid Yesus. Dari contoh pemuridan Yesus kepada nelayan, pemungut cukai, dan latar belakang murid lainnya lainnya, kita belajar untuk tetap dekat dengan Tuhan, memperhatikan setiap perilaku-Nya, pengajaran-Nya, dan pelayanan-Nya sehingga kita dapat menjadi murid yang berdampak. Pemuridan adalah hubungan pribadi dan pengalaman. (RS)
Bagikan ke :
- Categori: Renungan Harian